Ada perjumpaan yang hanya berlangsung beberapa menit, lalu hilang ditelan waktu. Tetapi ada pula perjumpaan yang mengubah jalan hidup, bahkan meninggalkan jejak yang dapat dibaca jauh setelah orang-orang yang menjalaninya tiada.
Begitulah kisah Buya Hamka dengan sejumlah sahabatnya dari kalangan Tionghoa.
Di tengah perjalanan panjang bangsa Indonesia—dari zaman penjajahan, perjuangan kemerdekaan, hingga masa ketika sebuah negara baru sedang mencari jati dirinya—Hamka memperlihatkan bahwa Islam dapat menjadi kekuatan yang mempertemukan manusia. Bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan menempatkan perbedaan pada tempatnya.
Sebab bagi Hamka, manusia lebih dahulu adalah manusia.
Suku, bangsa, warna kulit, kekayaan, kedudukan, dan keturunan adalah bagian dari identitas kehidupan. Tetapi semua itu bukan ukuran terakhir kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Di situlah Islam menjadi luas.
Dari Bengkulu, Sebuah Persahabatan Bermula
Kisah itu salah satunya bermula di Bengkulu, ketika Hamka masih muda.
Di kota itu ia berkenalan dengan Oey Tjeng Hien, yang kemudian dikenal sebagai Haji Abdul Karim Oei. Seorang Tionghoa Muslim, pedagang, tokoh Muhammadiyah, dan salah satu figur yang turut memberi warna pada perjalanan masyarakat Muslim di Bengkulu.
Oey juga memiliki hubungan dengan Soekarno yang ketika itu menjalani pembuangan di Bengkulu. Dalam lingkungan pergerakan dan kehidupan masyarakat yang penuh pergolakan itulah Hamka dan Oey bertemu.
Keduanya datang dari latar belakang yang berbeda.
Hamka adalah seorang Minangkabau yang tumbuh dalam tradisi Islam yang kuat. Oey adalah seorang Tionghoa yang memilih Islam dan aktif dalam kehidupan umat.
Namun perbedaan itu tidak menjadi tembok.
Ia justru menjadi awal sebuah persahabatan.
Bertahun-tahun kemudian, Hamka masih mengenang hubungan tersebut. Dalam tulisannya pada 1979, ia menyebut bahwa persahabatan mereka telah berlangsung sekitar lima puluh tahun.
Sebuah rentang yang cukup panjang untuk menyaksikan sebuah bangsa berubah.
Mereka melewati zaman kolonial, menyaksikan perjuangan kemerdekaan, dan kemudian melihat Indonesia tumbuh dengan segala persoalannya.
Persahabatan itu bertahan bukan karena mereka berasal dari tempat yang sama, tetapi karena mereka menemukan sesuatu yang lebih penting: kesamaan nilai, keyakinan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Dari Oey, kita belajar bahwa persaudaraan tidak selalu dimulai dari kesamaan darah. Kadang ia lahir dari kesediaan untuk melihat manusia di balik identitasnya.
Ketika Perbedaan Menjadi Jembatan
Hubungan Hamka dengan orang-orang Tionghoa kemudian tidak berhenti pada Oey Tjeng Hien.
Dalam perjalanan hidupnya, Hamka juga dekat dengan Junus Jahja, yang lahir dengan nama Lauw Tjhwan Thio. Junus memeluk Islam dengan bimbingan Hamka dan kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting Muslim Tionghoa Indonesia.
Ada pula Haji Masagung, yang lahir dengan nama Tjio Wie Tay. Ia dikenal sebagai pengusaha dan tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap dunia buku dan perkembangan kehidupan umat. Ia memeluk Islam pada 1975.
Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Hamka dengan masyarakat Tionghoa bukan sekadar kisah tentang perbedaan etnis.
Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang perjumpaan.
Perjumpaan seorang ulama dengan seorang sahabat.
Perjumpaan seorang guru dengan seseorang yang sedang mencari jalan spiritual.
Perjumpaan manusia dengan manusia lain yang membawa pengalaman hidup berbeda.
Di sinilah Islam menemukan salah satu keindahannya.
Ia tidak menuntut manusia untuk menjadi seragam sebelum dapat bersaudara.
Seorang Anak yang Menemukan Ayah
Namun dari semua kisah itu, barangkali hubungan Hamka dengan Yusuf Hamka menjadi gambaran yang paling menyentuh.
Pada 1981, seorang pemuda keturunan Tionghoa bernama Alun datang menemui Hamka. Ia kemudian memeluk Islam dan mendapat nama Yusuf Hamka.
Tetapi kisah itu tidak berhenti pada syahadat.
Hamka dan kemudian mengangkat Yusuf sebagai anak.
Di sini agama hadir bukan sebagai teori.
Ia hadir sebagai keluarga.
Seorang anak muda dari latar belakang yang berbeda menemukan seorang “ayah”. Seorang ulama tidak sekadar membimbing seseorang mengenal Islam, tetapi membuka pintu rumah dan kehidupan untuknya.
Ada sesuatu yang dalam dari kisah ini.
Sebab kadang-kadang manusia tidak membutuhkan banyak kata untuk memahami kasih sayang. Ia hanya perlu merasakan bahwa ada seseorang yang bersedia menerima dirinya.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk paling nyata dari rahmatan lil ‘alamin.
Rahmat dapat hadir dalam sebuah persahabatan, pertolongan maupun dalam sebuah percakapan.
Bahkan dalam sebuah rumah yang pintunya dibuka untuk seseorang yang dianggap berbeda.
Islam yang Melampaui Sekat
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Ayat itu memiliki makna yang dalam bagi sebuah bangsa seperti Indonesia.
Sebab Indonesia memang dibangun dari perbedaan.
Minangkabau, Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Dayak, Papua, Tionghoa, dan begitu banyak kelompok lainnya hidup dalam satu ruang kebangsaan.
Maka persatuan tidak mungkin dibangun dengan cara menghapus perbedaan.
Persatuan justru tumbuh ketika manusia mampu menerima kenyataan bahwa dirinya hidup bersama orang-orang yang tidak sama dengannya.
Hamka memahami hal itu.
Beliau tetap seorang Minangkabau, tetapi persahabatannya melampaui batas Minangkabau.
Sebagai seorang ulama, tetapi pergaulannya tidak berhenti di lingkungan ulama.
Dan seorang Muslim yang teguh, tetapi keteguhan itu tidak membuatnya harus menutup pintu terhadap manusia yang berbeda latar belakang.
Justru keyakinan yang kuat memberinya keluasan untuk bersahabat dan menguatkan rasa persaudaraan.
Rahmat yang Harus Terlihat
Hari ini kita sering berbicara tentang rahmatan lil ‘alamin. Namun kisah Hamka mengingatkan bahwa rahmat bukan sekadar istilah.
Rahmat harus terlihat dalam perilaku.
Terlihat ketika kita memperlakukan orang miskin dengan hormat.
Saat kita tidak merendahkan orang karena sukunya.
Ketika kita tidak mengukur manusia dari kekayaannya.
Bahkan ketika kita mampu bersahabat dengan orang yang berbeda.
Dan yang paling penting, adalah ketika seseorang yang berada di luar lingkaran kita tidak lagi kita anggap sebagai “orang lain”.
Kisah Oey Tjeng Hien, Junus Jahja, Haji Masagung, dan Yusuf Hamka memberikan gambaran tentang hal itu dalam bentuk yang sangat manusiawi.
Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi menemukan ruang perjumpaan bersama Hamka.
Ada yang menjadi sahabat,menjadi murid, menjadi rekan seperjuangan dan ada yang akhirnya menjadi anak.
Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa persaudaraan dapat tumbuh jauh melampaui batas-batas identitas.
Warisan Hamka
Mungkin itulah salah satu warisan Hamka yang paling relevan bagi kita hari ini.
Bukan sekadar banyaknya buku yang ia tulis ataupun luasnya pengetahuan yang ia miliki.
Tetapi cara ia memandang manusia.
Bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan.
Tentang keyakinan yang teguh tidak harus membuat hati menjadi sempit.
Seseorang dapat mencintai agamanya dengan sungguh-sungguh sekaligus menghormati manusia yang berbeda dengannya dan menyampaikan bahwa Islam akan terasa indah ketika ia hadir sebagai rahmat dalam kehidupan nyata.
Dari Bengkulu hingga rumah Hamka, dari Oey Tjeng Hien hingga Yusuf Hamka, ada satu benang merah yang layak kita renungkan: Islam dapat menjadi rumah bagi persaudaraan yang melampaui sekat-sekat manusia.
Rumah itu tidak meminta semua orang menjadi sama.
Ia hanya mengajarkan agar manusia saling menghormati, saling mengenal, dan saling berbuat baik.
Barangkali karena itulah kisah Hamka dengan sahabat-sahabat Tionghoanya tetap penting untuk dikenang.
Di tengah dunia yang semakin mudah membangun batas, kita membutuhkan kembali Islam yang membuka pintu.
Islam yang melihat manusia sebelum melihat labelnya.
Islam yang meneguhkan iman tanpa mematikan kasih sayang.
Islam yang membuat perbedaan menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan alasan untuk saling menjauh.
Sebab pada akhirnya, di hadapan Allah, segala kebanggaan duniawi akan ditanggalkan.
Yang tersisa adalah manusia dengan amalnya.
Dan ketika seorang Muslim mampu membuat manusia lain merasa dihargai, diterima, dan diperlakukan dengan adil, di situlah agama tidak hanya menjadi sesuatu yang diyakini.
Ia menjadi sesuatu yang dirasakan.
Itulah Islam yang mempersatukan.
Islam yang menghadirkan rahmat.
Islam yang, dalam keluasan maknanya, menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Buya Hamka Center









