HAMKA, SATU DARI 100 TOKOH PEMIMPIN ISLAM DUNIA ABAD KE 20

Buya Hamka di Medan 1943

The Malay people and the world beyond continue to recognize and appreciate Hamka’s contributions and pay him tributes (Manzoor Alam, 2005; 269).

Institute of Objective Studies (IOS), New Delhi, India menobatkan Prof. Dr. HAMKA sebagai salah satu dari 100 tokoh pemimpin Islam Dunia abad ke 20 atau dalam bahasa Inggris: 100 Great Muslim Leaders of the 20th Century. Di samping HAMKA ada lagi 5 (lima) orang Indonesia yang dikukuhkan termasuk ke dalam 100 tokoh pemimpin Islam dunia yaitu (1) Abdurrahman Wahid, (2) Prof. Dr. BJ. Habibie, (3) Dr. Moh. Hatta, (4) Moh. Natsir, dan (5) Syed Muhammad Naguib al-Attas.

Untuk menetapkan 100 tokoh pemimpin Islam abad ke 20 tidaklah mudah. Para editor membuat seperangkat kriteria. Terkenal saja tidak cukup. Seperti tokoh pejuang Palestina Yasser Arafat, tidak termasuk ke dalam 100 tokoh pemimpin Islam dunia (STPID), karena Yasser Arafat oleh para penyusun STPID dianggap kurang konsisten ketimbang Syekh Achmad Yassin, tokoh pejuang Palestina lainnya.

Kriteria tokoh pemimpin Islam yang masuk ke dalam 100 tokoh adalah:

  1. Pengaruh pemikiran-pemikirannya bagi kemajuan Islam dan kemanusiaan
  2. Hidup dan Perjuangannya untuk kemaslahatan ummat dan Islam baik di negaranya, reagional maupun dunia lainnya
  3. Berjuang secara konsisten
  4. Hidup dan berkiprah di abad ke 20

Kriteria 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah karangan Michael H. Hart berbeda dengan apa yang disusun oleh Manzoor Alam (et. al). Bagi Michael H. Hart tidak semata-mata tokoh yang paling kenamaan, dan kemilau dalam sejarah, bakat, kedermawanan, baik hati dan lembut, tidaklah bisa disamankan dengan PENGARUH. Dia menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah, ditempatkan pada rangking satu dari seratus tokoh.

Diperkirakan penduduk dunia sekarang 6.5 milyar. Perhitungan orang yang meninggal seperempat dari yang hidup. Jadi lebih kurang 1.5 milyar. Jumlah manusia dari Nabi Adam AS sampai sekarang diperkirakan 8 milyar. Maka dari manusia yang 8 milyar itu Michael H. Hart menetapkan Nabi Muhammad SAW, sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah sampai sekarang.

Manzoor Alam (et. al) membatasi periodenya hanya abad ke 20, tidak seperti Michael H. Hart yang rentangan waktunya lebih lama, sejak Adam AS sampai sekarang.

Kenapa abad ke 20?

Manzoor Alam (et. al) menyatakan bahwa abad ke 20 adalah abad yang paling menentukan dalam sejarah umat manusia:

  • Kolonisasi Barat atas Bangsa-bangsa Asia – Afrika secara massive mulai mendapat tantangan dan menjelang pertengahan abad ke 20 ini imperialisme Barat atas Asia – Afrika secara fisik boleh dikatakan berakhir
  • Terjadinya dua kali Perang Dunia, PD I dan II yang berpengaruh besar bagi perjalanan sejarah bangsa-bangsa.
  • Berdirinya negara Israel (1948) di jantung Arab, terinjaknya hak asasi bangsa Palestina, sampai sekarang masalahnya belum selesai
  • Perkembangan yang mengagumkan dalam IPTEK
  • Terjadinya GAP antara negara kaya dan miskin
  • Era mulainya perdagangan bebas terbentuknya WTO (World Trade Organization)
  • Leburnya negara Komunis Uni Soviet (1989), menurunnya perang dingin, hancurnya Blok Komunis, dan munculnya AS sebagai negara “Polisi Dunia”
  • Terjadinya global warming, pemanasan global, rusaknya eco system dunia, mulai mengancam kehidupan manusia
  • Peran lembaga dunia seperti UNDP, IMF, WTO, dan sebagainya meningkat
  • Masih terpuruknya kondisi umat Islam
  1. Di abad ke 20 inilah muncul tokoh besar pemimpin Islam di berbagai bidang antara lain: 1. Bidang Politik dan Pemerintahan; Indonesia: (1) Dr. Moh. Hatta, (2) Moh. Natsir, (3) Prof. Dr. BJ Habibie, (4) Dr. A. Rahman Wahid; Pakistan: Ali Jinnah; Iran: Khomeini; Rusia: Ismail Bey Graspaly; Turki: Necmettin Erbakan, dan sebagainya.
  2. Pejuang Kemerdekaan dan Revolusioner; Palestina: Syeikh Achmad Yassin; Swiss: Said Ramadan; USA: Malcom X.; Mesir: Hassan al-Banna, dan lain sebagainya.
  1. Ulama dan Hakim: India: Abdul Aa Mandidu; Aljazair: Malik bin Nabi; Albania: A Hamied Badees; Mesir: A. Qadir Audah
  2. Penulis dan Sasterawan: Indonesia: Hamka; Jepang: Umar Mita; Inggris: Moh. M. William Pichthal; Perancis: Garandi; Jerman: Wilfred Hofmann
  3. Pendidik dan Pembaharu Sosial: Swedia: Sofle Roald: USA: Ismail Raji al-Faruqi; Zimbabwe: Moosn Makdi; Filipina: A. Domocos Alonto, dan lain sebagainya.

Institute of Objective Studies (IOS) India di bawah Ketua Manzoor Alam memilih Hamka sebagai salah satu dari 100 tokoh pemimpin Islam dunia abad ke 20.

Menurut IOS, Hamka sampai sekarang diakui dan dihargai oleh bangsa-bangsa Malayu dan dunia lainnya karena kontribusinya pada Islam, terhadap solusi yang dihadapi umat Islam dan umat manusia lainnya. Atas kontribusinya Hamka mendapat penghargaan-penghargaan.

Hamka terkenal sebagai seorang otodidak, tidak pernah kuliah formal di Perguruan Tinggi (PT), dan bukan pula lulusan sebuah PT, akan tetapi buku-buku karangannya menjadi referensi di banyak Perguruan Tinggi. Ia adalah seorang intelektual Islam, penulis Islam Indonesia modern yang produktif, ulama terkenal, aktivis Muhammadiyah, novelis, wartawan, sejarawan Islam, ahli tasauf, sasterawan, budayawan, Islamic Philosophy Expert, nasionalis yang cinta NKRI, pejuang kemerdekaan, menginterpretasikan Sila pertama dari Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Urat Tunggang Pancasila = Dasar Negara RI, juru dakwah yang populis menawan, datuk adat Minangkabau, Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, konsultan syari’ah Islam dengan terbuka menerima anggota masyarakat yang memerlukan bimbingan, pendekar silat Minangkabau di masa muda, Ketua Majelis Ulama Indonesia 1975-1981, anggota Konstituante RI 1956-1959, Pegawai Tinggi Depag 1950-1956. Pada tahun 1964-1966 dipenjarakan oleh Soekarno atas desakan PKI.

Manzoor Alam (et. al, 2005) menulis bahwa Gerard Monssey seorang pendeta Katholik Perancis yang pernah tinggal di Sumatera Barat menulis tentang riwayat hidup Hamka dengan judul Un Grand Figure de l’ Islam Indonesia, Buya Hamka. Tokoh besar Islam Indonesia dan diterbitkan di Paris tahun 1969. Andries Teeuw menulis: “Hamka’s place in the Literary history of modern Indonesia” yaitu tempat Hamka dalam sejarah sastera modern Indonesia dan diterbitkan tahun 1969, di Hague, Belanda.

Hamka, and following him, Abdurrahman Wahid, are now well recognissed interpreters of Islamic thought in Indonesia and beyond. Any history of the burgeoning indigeneous lit-erature of Islam can not he complete without acknowledging Hamka’s contributions in the 20th century. Atau Hamka, dan yang mengikutinya Abdurrahman Wahid, sekarang sebagai penerjemah pemikiran Islam di Indonesia dan dunia lainnya yang diakui secara baik. Dalam sejarah sastera Islam yang berkembang cepat, tidak akan sempurna tanpa mengakui sumbangan-sumbangan Hamka dalam abad ke 20.

Selanjutnya IOS (2005; 269) mengemukakan:

“Hamka was also a leading figure in the revolution struggle for national independence in West Sumatera from 1945 to 1949.” Hamka adalah seorang figur terkemuka dalam perjuangan revolusioner bagi kemerdekaan nasional di Sumatera Barat.

Hamka adalah seorang kutu buku, tiada hari tanpa membaca, baik duduk maupun sambil tidur di tempat tidur. Daya ingatnya kuat. Di samping buku beliau juga banyak berlangganan surat kabar. Di pagi hari (sekitar jam 07.00) setelah sarapan pagi, beliau baca koran, setelah membaca koran atau buku, hal-hal yang perlu, beliau ketik sendiri, dengan hanya dua jari telunjuk. Melalui dua jari telunjuk itulah lahir tulisan-tulisan atau buku-buku. Dalam hal menuliskan apa yang telah beliau baca, Hamka mempunyai gaya tersendiri, materi yang telah dibaca, beliau olah sendiri, keluarlah kata atau kalimat yang tidak sama dengan apa yang beliau baca. Akan tetapi isi atau makna yang terkandung di dalamnya tidaklah bertentangan. Jarang Hamka menuliskan kutipan, persis sama dengan kalimat-kalimat yang dibaca dengan memakai foot note, atau body note melainkan beliau tuliskan dengan kalimat-kalimat sendiri, dengan gaya beliau sendiri, dan tetap menyebutkan dari mana sumbernya.

Tulisan-tulisan Hamka konsen pada rakyat kecil dan or-ang-orang menderita. Novel-novelnya mengharu biru, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck, dan sebagainya. Tulisan-tulisan Hamka jarang menghujat siapapun, tulisannya enak dibaca, bernuansa Islami, dengan kalimat-kalimat yang mudah dicerna, dan selalu mengharagai pendapat orang secara proporsional.

Tulisan Parlindungan berupa buku “TUANKU RAO”, yang menurut para kritikus lebih banyak bernuansa khayal ketimbang fakta. Hamka membuat suatu kritik ilmiah atas buku Tanku Rao karangan Maharadja Onggang Parlindungan di bawah judul: TUANKU RAO, ANTARA FAKTA DAN KHAYAL. Hamka dalam mengkritisi Tuanku Rao karangan Parlindungan, tetap dengan sopan, tidak menghujat dan dikemukakan secara ilmiah.

Atas darma bakti Hamka kepada Islam, umat Islam, manusia dan kemanusiaan, atas bangsa dan negara dalam kurun waktu yang panjang, dan sejak ia mulai menulis novel, Si Sabariah tahun 1925 sampai akhir hayatnya 21 Juli 1981, ia dihargai baik secara nasional maupun internasional.

Tanda dan bintang kehormatan yang diterima atau dianugerahkan kepada HAMKA, antara lain:

  1. Doctor honoris causa dari Universitas al-Azhar, Kairo (1958)
  2. Doctor honoris causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974)
  3. Man of the year versi Berita Buana (1980)
  4. Bintang Maha Putra Utama dari Pemerintah.
  5. Dan lain-lain.

Buya Hamka adalah ulama pejuang, ulama perekat ummat. Ia meninggal dunia dengan wajah tersenyum.

Daftar Pustaka

Adam, Cindy. 1965. Soekarno. An Autobiography As Told As Cindy Adams. New York. The Bobbs – Merril Co. Ltd.

Alam, Manzoor Mohd. 2005. 100 Great Muslim Leaders of the 20th Century. New Delhi. Institute of Objective Studies.

Hamka. 1971. Anatar Fakta dan Khayal “Tuanku Rao”. Jakarta. Bulan Bintang.

Hart, Michael H. 1994. The 100, A Ranking of the Most Influential Person in History. New York. Oxford University. Press.

Saad, Syofyan. 2002. Indonesia Dalam Era Gus Dur dan Mega. Jakarta. Uhamka Press.

Salam, Solihin (et. al.). Kenang-kenangan 70 Tahun BUYA Hamka Jakarta. Yayasan Nurul Islam.

Yee. James. 2005. For God and Country. New York. Pub-lic Affairs.


Ditulis oleh  : Prof.Dr. H. Syofyan Saad,MPd

Guru Besar UHamka

Bagikan Artikel