Buya Hamka: Sastra, Agama, dan Keberanian Membaca Wajah Masyarakat

Muktamar Muhammadiyah Bersama Ketua Muhammadiyah AR Fakhruddin 1976

Membicarakan Buya Hamka berarti memasuki dunia seorang tokoh yang tidak mudah dibatasi oleh satu bidang. Ia dikenal sebagai ulama, tetapi juga seorang pemikir, pendidik, wartawan, dan sastrawan. Di antara berbagai perannya itu, sastra menjadi salah satu jalan penting untuk memahami cara Hamka melihat manusia, agama, dan kehidupan sosial.

Sebagai ulama, ia berbicara mengenai iman, akhlak, tanggung jawab, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Sebagai sastrawan, gagasan tersebut tidak selalu disampaikan dalam bentuk nasihat. Ia membiarkannya hidup melalui tokoh-tokoh yang menghadapi cinta, kemiskinan, kehilangan, konflik keluarga, tekanan adat, persoalan kehormatan, dan ketidakadilan.

Karena itu, novel-novel Hamka tidak tepat jika hanya dibaca sebagai kisah percintaan yang berlatar masyarakat masa lalu. Di balik cerita tersebut terdapat kegelisahan seorang ulama terhadap kondisi manusia dan persoalan sosial di sekitarnya.

Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, dan Terusir memperlihatkan persoalan yang berbeda, tetapi memiliki satu titik temu: manusia sering kali harus berhadapan dengan lingkungan sosial yang menentukan nilai, pilihan, bahkan nasibnya.

Dari sana Hamka menyampaikan pesan agama dan moral, sekaligus melontarkan kritik terhadap kebiasaan masyarakat, ketimpangan sosial, cara memperlakukan perempuan, kekakuan adat, dan keterbatasan cara berpikir.

Agama yang Tumbuh dari Pengalaman Hidup

Kekuatan Hamka sebagai sastrawan-ulama terlihat dari caranya menempatkan agama di tengah pengalaman manusia.

Dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah, misalnya, persoalan keimanan tidak hadir sebagai teori yang berdiri sendiri. Kisah Hamid mempertemukan cinta, perbedaan keadaan sosial, kehilangan, dan keteguhan hati. Ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan, yang diuji bukan sekadar perasaan, melainkan juga cara seseorang menerima kenyataan.

Pesan tentang kesabaran dan keikhlasan menjadi terasa karena pembaca melihat prosesnya melalui kehidupan tokoh.

Hal serupa dapat ditemukan dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Tragedi Zainuddin dan Hayati bukan hanya kisah cinta yang berakhir menyakitkan. Ada persoalan tentang asal-usul, keluarga, kedudukan sosial, adat, dan harga diri yang ikut menentukan perjalanan mereka.

Agama dalam kedua novel tersebut tidak berdiri di luar persoalan sosial. Ia justru hadir di tengahnya.

Inilah ciri penting karya Hamka. Nilai keagamaan tidak hanya berupa ucapan tentang Tuhan, tetapi menjadi cara manusia menghadapi keadaan. Kesabaran diuji oleh kehilangan. Keikhlasan diuji oleh kegagalan. Akhlak diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk membalas perlakuan buruk.

Dengan cara seperti itu, dakwah menjadi pengalaman yang lebih manusiawi.

Dari Zainuddin hingga Leman: Persoalan Kelas dan Identitas Sosial

Jika Tenggelamnya Kapal Van der Wijck memperlihatkan kuatnya persoalan keturunan dan adat, Merantau ke Deli membawa pembaca pada persoalan yang sedikit berbeda.

Novel ini mempertemukan persoalan perantauan, perkawinan, perbedaan latar belakang, dan kehidupan sosial di tanah rantau. Kisah Leman dan Poniem memperlihatkan bagaimana hubungan pribadi tidak selalu dapat dipisahkan dari identitas budaya dan pandangan lingkungan.

Poniem sebagai perempuan Jawa dan Leman sebagai laki-laki Minangkabau menghadapi persoalan yang tidak hanya berasal dari hubungan mereka sendiri, tetapi juga dari lingkungan sosial dan ikatan budaya.

Di sini Hamka memperlihatkan bahwa perbedaan budaya dapat menjadi sesuatu yang memperkaya, tetapi juga dapat menjadi sumber konflik ketika identitas kelompok ditempatkan terlalu tinggi di atas hubungan antarmanusia.

Persoalan tersebut masih terasa dekat dengan kehidupan sekarang.

Kita masih sering melihat hubungan manusia dinilai berdasarkan asal daerah, keluarga, pendidikan, status ekonomi, bahkan latar budaya. Ada keluarga yang menerima perbedaan dengan terbuka, tetapi ada pula yang melihat perbedaan sebagai ancaman terhadap identitas.

Merantau ke Deli menarik karena Hamka tidak menyelesaikan persoalan itu dengan cara yang sederhana. Ia memperlihatkan bahwa perkawinan dan kehidupan rumah tangga tidak hanya berhadapan dengan perasaan, tetapi juga dengan nilai yang dibawa masing-masing lingkungan.

Dengan demikian, merantau dalam karya Hamka bukan hanya soal berpindah tempat. Ia juga mempertemukan manusia dengan perbedaan dan memaksanya belajar menyesuaikan diri.

Terusir dan Wajah Masyarakat yang Mudah Menghukum

Jika ingin melihat sisi kemanusiaan Hamka dengan lebih jelas, Terusir menjadi karya yang penting.

Kisah Mariah membawa pembaca kepada persoalan perempuan, rumah tangga, kemiskinan, dan stigma sosial. Yang menarik bukan hanya penderitaan tokohnya, tetapi bagaimana lingkungan dapat memperlakukan seseorang yang berada dalam posisi lemah.

Di dalam cerita seperti ini, persoalan moral menjadi lebih rumit.

Masyarakat sering merasa mudah menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun kehidupan manusia jarang sesederhana itu.

Seseorang dapat jatuh bukan hanya karena kesalahan pribadi, tetapi juga karena keadaan, keputusan orang lain, atau sistem sosial yang tidak memberinya ruang untuk bangkit.

Terusir membuat kita bertanya tentang batas antara kesalahan seseorang dan hukuman sosial yang diterimanya.

Apakah seseorang yang pernah jatuh pantas kehilangan seluruh kesempatan untuk memperbaiki hidup?

Apakah seorang perempuan harus menanggung beban yang jauh lebih berat ketika rumah tangganya mengalami masalah?

Dan apakah masyarakat benar-benar membantu ketika mereka mengucilkan seseorang yang sedang berada dalam kesulitan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Terusir memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat.

Hamka tidak hanya menggambarkan penderitaan untuk mengundang air mata. Ia juga memperlihatkan bagaimana sebuah lingkungan dapat ikut memperpanjang penderitaan seseorang.

Ketika Kehormatan Menjadi Beban

Persoalan kehormatan muncul dalam beberapa karya Hamka dalam bentuk yang berbeda.

Keluarga ingin menjaga nama baik. Masyarakat ingin mempertahankan norma. Adat ingin dijunjung. Semuanya pada dasarnya memiliki tujuan yang dapat dipahami.

Namun persoalan muncul ketika kehormatan lebih diutamakan daripada manusia.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang bisa dipaksa mengorbankan pilihan hidupnya demi menjaga pandangan orang lain.

Hal tersebut terasa dalam berbagai konflik yang dialami tokoh-tokoh Hamka.

Ada cinta yang kandas karena ukuran sosial.

Ada rumah tangga yang terpengaruh oleh pandangan lingkungan.

Ada perempuan yang harus menanggung stigma.

Ada seseorang yang kehilangan tempat karena kesalahan yang mungkin sebenarnya masih dapat diperbaiki.

Di sinilah Hamka menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kekuatan besar dalam menentukan kehidupan individu.

Masyarakat memang membutuhkan aturan. Tanpa norma, kehidupan bersama akan sulit berjalan. Namun aturan sosial tidak seharusnya menghilangkan rasa keadilan.

Karena itu, kritik Hamka tidak sesederhana “adat itu buruk” atau “masyarakat selalu salah”.

Yang ia tunjukkan justru persoalan yang lebih realistis: nilai yang baik pun dapat menghasilkan ketidakadilan apabila diterapkan tanpa mempertimbangkan keadaan manusia.

Kritik terhadap Adat yang Kehilangan Tujuan

Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi Minangkabau, Hamka memahami adat dari dekat. Ia tidak berada di luar tradisi ketika mengkritiknya.

Hal ini penting.

Kritik dari dalam biasanya lebih rumit daripada penolakan dari luar. Ada penghargaan sekaligus kegelisahan.

Hamka melihat bahwa adat memiliki fungsi sosial. Ia menjadi bagian dari identitas dan tata kehidupan masyarakat. Namun ia juga menyadari bahwa zaman berubah dan manusia menghadapi persoalan yang berbeda.

Karena itu, tradisi tidak dapat hanya dipertahankan dengan alasan “memang sudah begitu”.

Sebuah adat perlu dilihat dari tujuan dan dampaknya.

Apakah ia menjaga keharmonisan?

Apakah ia melindungi yang lemah?

Apakah ia menjaga martabat manusia?

Jika jawabannya ya, tentu ada alasan kuat untuk mempertahankannya.

Tetapi jika sebuah kebiasaan justru menciptakan diskriminasi atau mengorbankan kehidupan seseorang, maka keberanian untuk mengoreksinya bukanlah penghinaan terhadap leluhur.

Justru sebaliknya, itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap generasi berikutnya.

Perempuan sebagai Korban Stigma dan Tekanan Sosial

Tokoh-tokoh perempuan dalam karya Hamka juga memperlihatkan perhatian yang cukup besar terhadap persoalan martabat.

Hayati, Poniem, dan Mariah berada dalam situasi yang berbeda, tetapi masing-masing berhadapan dengan lingkungan yang memiliki penilaian terhadap perempuan.

Dalam masyarakat yang sangat menekankan kehormatan keluarga, perempuan sering menjadi pihak yang paling mudah menerima konsekuensi sosial.

Pilihan mereka diawasi.

Kesalahan mereka diingat.

Kehidupan pribadi mereka mudah menjadi pembicaraan.

Di sinilah karya Hamka dapat dibaca sebagai kritik terhadap kebiasaan masyarakat yang cepat memberikan label kepada perempuan.

Persoalannya bukan sekadar laki-laki dan perempuan.

Lebih jauh, ini menyangkut bagaimana masyarakat memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lebih rentan.

Seseorang yang sedang jatuh seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tetapi ketika stigma sudah melekat, masyarakat sering kali justru menutup jalan tersebut.

Terusir menunjukkan persoalan ini dengan sangat kuat.

Kemiskinan Bukan Sekadar Kekurangan Harta

Karya Hamka juga memperlihatkan bahwa kemiskinan memiliki dampak sosial yang luas.

Kemiskinan dapat membatasi pendidikan, pilihan hidup, hubungan sosial, dan kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, kemiskinan tidak cukup dijawab dengan belas kasihan.

Ada persoalan kesempatan di dalamnya.

Seseorang yang lahir dalam keluarga miskin belum tentu kurang rajin. Anak dari keluarga sederhana belum tentu kurang cerdas. Namun mereka mungkin memulai kehidupan dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas.

Di sinilah nilai kemanusiaan yang dibawa Hamka menjadi penting.

Manusia tidak boleh dinilai hanya berdasarkan apa yang dimilikinya.

Dalam kehidupan sosial, ukuran tersebut sering kali begitu kuat sampai-sampai orang miskin merasa harus meminta maaf karena menjadi miskin.

Padahal kemiskinan bukan alasan untuk merendahkan seseorang.

Yang seharusnya dibangun adalah kesempatan agar manusia dapat memperbaiki kehidupannya.

Merantau sebagai Cara Belajar

Merantau ke Deli juga menarik jika dibaca dari perspektif perubahan dan keterbukaan.

Merantau dalam tradisi Minangkabau bukan sekadar meninggalkan kampung. Ia merupakan proses mencari pengalaman dan kemandirian.

Dalam karya Hamka, pengalaman di tempat baru mempertemukan manusia dengan kebiasaan, budaya, dan nilai yang berbeda.

Dari sini kita dapat melihat satu gagasan yang cukup relevan: seseorang perlu keluar dari lingkungan yang terlalu familiar agar dapat melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih.

Masyarakat pun demikian.

Jika sebuah kelompok tidak pernah mau berinteraksi dengan dunia luar, ia akan mudah menganggap kebiasaannya sebagai satu-satunya kebenaran.

Karena itu, keterbukaan menjadi bagian dari kemajuan.

Namun keterbukaan bukan berarti menelan semua hal tanpa pertimbangan.

Yang diperlukan adalah kemampuan untuk belajar dari luar sambil tetap memiliki pegangan.

Ketertinggalan Bukan Hanya Soal Materi

Ketika berbicara tentang ketertinggalan, kita sering langsung memikirkan ekonomi dan pembangunan.

Padahal ada ketertinggalan yang lebih mendasar: ketertinggalan cara berpikir.

Masyarakat dapat memiliki sumber daya, tetapi tetap sulit berkembang jika tidak terbiasa bertanya.

Kebiasaan menerima sesuatu tanpa pemeriksaan dapat membuat kesalahan berlangsung sangat lama.

Di sinilah pendidikan menjadi penting.

Bagi Hamka, ilmu bukan sekadar jalan memperoleh pekerjaan. Pengetahuan memberi manusia kemampuan untuk memahami dunia, menilai keadaan, dan mengambil keputusan dengan lebih matang.

Semangat itu juga terlihat dalam perjalanan hidup Hamka sendiri. Ia banyak belajar secara mandiri, membaca berbagai karya, bergaul dengan berbagai lingkungan, dan mengembangkan pemikirannya melalui pengalaman.

Karena itu, pendidikan dalam konteks pemikiran Hamka tidak seharusnya dipersempit menjadi urusan sekolah.

Ia menyangkut pembentukan manusia yang mampu berpikir.

Dan masyarakat yang mampu berpikir akan lebih siap menghadapi perubahan.

Dari Mimbar ke Halaman Novel

Di sinilah kita dapat memahami keistimewaan Hamka sebagai ulama sekaligus sastrawan.

Dakwah di mimbar memiliki kekuatan untuk menyampaikan prinsip secara langsung. Sastra memiliki kekuatan yang berbeda: ia membuat pembaca mengalami persoalan tersebut melalui kehidupan tokoh.

Seorang ulama dapat mengatakan bahwa manusia harus bersabar.

Seorang sastrawan dapat memperlihatkan seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya dan harus belajar menjalani kehidupan setelahnya.

Seorang ulama dapat menjelaskan pentingnya menjaga akhlak.

Seorang sastrawan dapat memperlihatkan akibat kesombongan, pengkhianatan, atau ketidakadilan terhadap manusia lain.

Keduanya tidak bertentangan.

Pada Hamka, keduanya justru saling melengkapi.

Nilai agama memberikan arah, sedangkan sastra memberikan pengalaman.

Karena itu, novel-novelnya tidak terasa seperti kitab nasihat yang diubah menjadi cerita. Ia tetap merupakan karya sastra, tetapi memiliki kesadaran moral yang kuat.

Hamka dan Kritik yang Tidak Kehilangan Harapan

Hal lain yang membuat karya Hamka menarik adalah kritiknya tidak berhenti pada kecaman.

Ia memang menunjukkan kelemahan manusia dan masyarakat, tetapi selalu ada ruang untuk perbaikan.

Tokoh-tokohnya mengalami kesalahan, kehilangan, bahkan kehancuran. Namun pengalaman tersebut membuka kemungkinan bagi pembaca untuk melihat apa yang seharusnya dilakukan secara berbeda.

Hal ini penting karena kritik tanpa harapan mudah berubah menjadi sinisme.

Hamka tidak berhenti pada “masyarakat kita buruk”.

Ia lebih dekat pada pertanyaan: apa yang dapat diperbaiki?

Adat tidak harus dihancurkan, tetapi perlu ditafsirkan secara bijaksana.

Agama tidak cukup dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam akhlak.

Pendidikan tidak cukup menghasilkan orang pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang memiliki tanggung jawab.

Kemajuan tidak hanya berarti perubahan teknologi, tetapi juga peningkatan kualitas kehidupan.

Membaca Hamka di Zaman Sekarang

Mungkin ada yang bertanya: apa gunanya membaca novel yang ditulis puluhan tahun lalu ketika kehidupan sudah berubah begitu jauh?

Jawabannya justru terletak pada persoalan manusia yang belum banyak berubah.

Kita masih melihat orang dinilai berdasarkan status sosial.

Kita masih menemukan keluarga yang terlalu takut pada penilaian lingkungan.

Kita masih berhadapan dengan kemiskinan dan ketimpangan kesempatan.

Kita masih menyaksikan perempuan menerima stigma yang lebih berat dalam situasi tertentu.

Kita masih memperdebatkan hubungan antara tradisi dan perubahan.

Dan kita masih menghadapi persoalan keberagamaan: bagaimana agar keyakinan tidak berhenti sebagai identitas, tetapi benar-benar membentuk perilaku.

Dalam konteks itulah novel Hamka kembali menemukan relevansinya.

Bukan karena semua keadaan sekarang sama dengan masa lalu, tetapi karena pertanyaan moralnya masih hidup.

Penutup: Sastra yang Membela Martabat Manusia

Hamka meninggalkan karya yang lebih luas daripada dua novel yang paling sering disebut ketika namanya dibicarakan.

Di Bawah Lindungan Ka’bah memperlihatkan pergulatan iman dan penderitaan.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck membuka persoalan cinta, adat, keturunan, dan ukuran sosial.

Merantau ke Deli membawa kita kepada persoalan perbedaan budaya, perkawinan, perantauan, dan kehidupan sosial.

Terusir memperlihatkan sisi lain dari persoalan perempuan, keluarga, stigma, dan ketidakadilan sosial.

Jika karya-karya tersebut dibaca bersama, terlihat bahwa perhatian Hamka tidak hanya tertuju pada persoalan cinta. Yang lebih dalam adalah kegelisahannya terhadap martabat manusia di tengah aturan, nilai, dan tekanan masyarakat.

Sebagai ulama, ia membawa keyakinan bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi moral dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Sebagai sastrawan, ia memahami bahwa manusia tidak hidup dalam ruang yang sederhana. Ada keluarga, adat, ekonomi, status sosial, perasaan, dan lingkungan yang ikut membentuk pilihan seseorang.

Pertemuan keduanya membuat karya Hamka terasa hidup.

Ia tidak mengajak kita membenci adat.

Ia juga tidak mengajak kita menerima semua tradisi tanpa berpikir.

Ia tidak meminta kita meninggalkan agama demi modernitas.

Ia justru mengingatkan agar agama, ilmu, adat, dan kemajuan ditempatkan pada tujuan yang sama: membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Karena itu, membaca Hamka hari ini bukan sekadar membaca sejarah sastra Indonesia.

Kita sedang berhadapan dengan pertanyaan yang masih relevan:

Apa gunanya adat jika manusia kehilangan keadilan?

Apa gunanya pendidikan jika manusia tidak belajar menghargai sesamanya?

Apa gunanya agama jika ia tidak membentuk akhlak?

Apa arti kemajuan jika masih ada manusia yang diperlakukan tanpa martabat?

Dan apa arti kehormatan jika untuk mempertahankannya kita harus mengorbankan kehidupan orang lain?

Barangkali di situlah kekuatan Hamka sebagai sastrawan-ulama. Ia tidak memberi kita masyarakat yang sempurna. Ia justru memperlihatkan manusia dengan segala kelemahan dan konfliknya, lalu mengajak pembaca mengambil pelajaran.

Sastra baginya bukan pelarian dari kehidupan.

Sastra adalah cara untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih.

Dan ketika seorang ulama menggunakan sastra untuk menyentuh hati manusia, pesan yang lahir bukan hanya tentang apa yang seharusnya kita percaya, tetapi juga tentang bagaimana keyakinan itu seharusnya membuat kita hidup.

Lebih adil.

Lebih berilmu.

Lebih terbuka.

Lebih beradab.

Dan, pada akhirnya, lebih manusiawi.


Penulis  : Abdul Hadi Hamka, MBA,M.Ag.

Bagikan Artikel