Pendahuluan
Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika pembaruan pemikiran Islam yang berlangsung sejak awal abad ke-20. Salah satu persoalan utama yang dihadapi umat Islam pada masa tersebut adalah kesenjangan antara pendidikan keagamaan tradisional dengan tuntutan ilmu pengetahuan modern. Di satu sisi, lembaga-lembaga pendidikan Islam memiliki peran penting dalam mempertahankan identitas keagamaan dan transmisi ilmu-ilmu Islam. Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem pendidikan modern menuntut umat Islam untuk memiliki kemampuan intelektual yang lebih luas agar mampu berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan masyarakat modern.

Dalam konteks tersebut, pemikiran dan kiprah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) memiliki posisi penting. HAMKA tidak hanya dikenal sebagai ulama, mufasir, sastrawan, dan tokoh politik, tetapi juga sebagai salah satu figur yang memberikan perhatian besar terhadap persoalan pendidikan dan pembentukan manusia Muslim modern. Pemikirannya memperlihatkan upaya untuk mempertemukan keislaman dengan modernitas melalui pendidikan yang menempatkan iman, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kemampuan menghadapi perkembangan zaman dalam satu kerangka yang integral.
Gagasan tersebut relevan untuk melihat perkembangan pendidikan Islam modern di Indonesia, termasuk perjalanan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar. Meskipun secara historis HAMKA bukan pendiri YPI Al Azhar, keterlibatannya dalam perkembangan Masjid Agung Al Azhar, kegiatan dakwah, pembinaan umat, serta dorongannya terhadap pengembangan pendidikan formal di lingkungan Al Azhar menjadikan dirinya salah satu tokoh penting dalam perkembangan institusi tersebut.
Pendidikan dalam Perspektif HAMKA
Dalam pemikiran HAMKA, pendidikan memiliki dimensi yang lebih luas daripada proses transfer pengetahuan. Pendidikan merupakan proses pembentukan manusia secara utuh. Pengetahuan yang diperoleh seseorang harus berhubungan dengan pembentukan kepribadian, moralitas, dan tanggung jawab sosial.
Pemikiran tersebut berangkat dari pandangan bahwa manusia tidak hanya terdiri atas aspek intelektual, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan moral. Oleh sebab itu, pendidikan yang hanya mengembangkan kecerdasan intelektual tanpa membangun karakter akan menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan, tetapi belum tentu memiliki orientasi moral dalam menggunakan kemampuannya.
Sebaliknya, pendidikan keagamaan yang tidak memberikan ruang memadai bagi penguasaan ilmu pengetahuan umum juga menghadapi persoalan ketika umat harus berhadapan dengan perkembangan masyarakat modern.
Karena itu, salah satu substansi penting dalam gagasan pendidikan HAMKA adalah perlunya keseimbangan antara iman dan ilmu, intelektualitas dan akhlak, serta kehidupan keagamaan dan kemampuan menghadapi perubahan sosial.
Dalam kerangka tersebut, modernisasi pendidikan Islam tidak berarti melakukan sekularisasi pendidikan. Modernisasi justru dapat dipahami sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, metodologi pendidikan, dan teknologi tanpa melepaskan landasan moral dan spiritual Islam.
Modernisasi sebagai Upaya Penguatan Umat
Bagi umat Islam Indonesia, pendidikan memiliki dimensi strategis karena berkaitan langsung dengan kemampuan umat untuk membangun kehidupan sosial dan kebangsaan. Ketertinggalan dalam pendidikan pada akhirnya dapat menyebabkan ketertinggalan dalam berbagai bidang lain, termasuk ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan.
HAMKA melihat bahwa umat Islam tidak cukup hanya mempertahankan identitas keagamaannya. Identitas tersebut harus disertai dengan kemampuan intelektual dan profesional yang memungkinkan umat memainkan peran konstruktif dalam masyarakat.buatkan
Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki dua fungsi sekaligus.
Pertama, pendidikan berfungsi sebagai sarana transmisi dan internalisasi nilai-nilai Islam, terutama akidah dan akhlak.
Kedua, pendidikan berfungsi sebagai sarana pengembangan kapasitas intelektual dan profesional agar generasi Muslim mampu berpartisipasi dalam kehidupan modern.
Kedua fungsi tersebut tidak seharusnya dipertentangkan.
Justru integrasi keduanya menjadi salah satu karakter penting pendidikan Islam modern.
Dalam perspektif ini, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dipandang sebagai ancaman terhadap identitas Islam. Ilmu dan teknologi merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai kemaslahatan, sepanjang penggunaannya berada dalam kerangka etika dan tanggung jawab moral.
Dari Pembentukan Individu Menuju Pembangunan Peradaban
Gagasan pendidikan HAMKA dapat ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas, yaitu pendidikan sebagai instrumen pembangunan peradaban.
Sebuah masyarakat tidak hanya membutuhkan individu yang memiliki pengetahuan, tetapi juga membutuhkan individu yang memiliki integritas dan kemampuan menggunakan pengetahuannya untuk kepentingan publik. Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mencakup pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks pendidikan Islam, hal tersebut dapat dirumuskan dalam hubungan antara tiga unsur utama: iman, ilmu, dan amal.
Iman memberikan orientasi nilai.
Ilmu memberikan kemampuan untuk memahami dan mengelola kehidupan.Amal merupakan aktualisasi dari iman dan ilmu dalam kehidupan sosial.Kerangka tersebut menghasilkan konsep manusia Muslim yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga produktif dan bertanggung jawab secara sosial.Dengan pendekatan demikian, pendidikan Islam dapat berkontribusi terhadap pembentukan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi profesional sekaligus integritas moral.
Pendidikan Islam sebagai Integrasi Nilai dan Kompetensi
Salah satu persoalan pendidikan modern adalah kecenderungan memisahkan antara kompetensi dan nilai. Pendidikan sering kali diukur berdasarkan kemampuan akademik, pencapaian profesional, dan penguasaan teknologi. Aspek moral dan spiritual terkadang ditempatkan sebagai pelengkap.
Dalam perspektif pendidikan Islam yang sejalan dengan pemikiran HAMKA, pemisahan tersebut problematis.Ilmu pengetahuan membutuhkan orientasi etis.Teknologi membutuhkan tanggung jawab moral.Kecerdasan membutuhkan karakter.Profesionalisme membutuhkan integritas.Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi kemampuan intelektual peserta didik, tetapi juga dari bagaimana kemampuan tersebut digunakan.
Seorang dokter tidak hanya membutuhkan kompetensi medis, tetapi juga empati dan integritas.Seorang ilmuwan tidak hanya membutuhkan kemampuan penelitian, tetapi juga tanggung jawab terhadap dampak pengetahuannya.Seorang pengusaha tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola bisnis, tetapi juga kejujuran dan tanggung jawab sosial.
Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan kecerdasan strategis, tetapi juga moralitas.Dalam perspektif tersebut, pendidikan Islam memiliki kontribusi penting: membangun hubungan antara kompetensi dan etika.
Relevansi bagi Pendidikan Abad ke-21
Gagasan tersebut semakin relevan pada abad ke-21. Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi digital, bioteknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan menciptakan peluang sekaligus persoalan etis baru.Pertanyaan pendidikan tidak lagi hanya mengenai apakah generasi muda mampu menggunakan teknologi.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan?Pertanyaan tersebut menunjukkan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengembangkan technical skills, tetapi juga ethical judgment dan karakter.Dalam konteks umat Islam, tantangan tersebut dapat dijawab melalui pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.Dengan demikian, pendidikan Islam tidak mengambil posisi anti-modernitas. Sebaliknya, pendidikan Islam dapat menjadi sarana untuk membentuk generasi yang mampu memasuki modernitas secara kritis, kreatif, dan bermoral.
Al Azhar sebagai Salah Satu Manifestasi
Perjalanan YPI Al Azhar memberikan contoh konkret mengenai kemungkinan tersebut. Dari sebuah lingkungan masjid, berkembang kegiatan dakwah dan pendidikan yang kemudian melahirkan jaringan lembaga pendidikan formal.Dalam perkembangannya, lembaga-lembaga pendidikan Al Azhar berusaha memadukan pendidikan keagamaan dengan pendidikan umum serta merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Orientasi terhadap pembentukan manusia yang beradab dan berkemajuan menjadi bagian dari identitas pendidikan tersebut.Dengan demikian, Al Azhar dapat dibaca sebagai salah satu contoh perkembangan pendidikan Islam modern di Indonesia: sebuah model yang berupaya mempertahankan pendidikan agama sambil memberikan ruang yang luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi modern.
Dalam kerangka pemikiran HAMKA, hal tersebut memiliki relevansi yang kuat.Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan manusia yang religius atau manusia yang profesional secara terpisah, melainkan manusia yang memiliki integrasi antara religiusitas, intelektualitas, profesionalisme, dan tanggung jawab sosial.
Kesimpulan
Pemikiran HAMKA mengenai pendidikan dapat ditempatkan dalam konteks perjuangan modernisasi umat Islam Indonesia. Modernisasi yang dimaksud bukanlah pelepasan pendidikan dari agama, melainkan upaya memperkuat pendidikan Islam agar mampu menjawab tuntutan zaman tanpa kehilangan orientasi nilai.Pendidikan, dalam kerangka tersebut, memiliki tugas membentuk manusia yang beriman, berakhlak, berilmu, dan memiliki kompetensi untuk berpartisipasi dalam kehidupan modern.
Hubungan HAMKA dengan perkembangan Al Azhar memperlihatkan bagaimana gagasan tersebut dapat memperoleh bentuk kelembagaan. HAMKA bukan pendiri YPI Al Azhar, tetapi perannya sebagai ulama, imam, pendidik, dan penggerak kegiatan keagamaan di lingkungan Masjid Agung Al Azhar memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan ekosistem pendidikan dan dakwah di lingkungan tersebut.Dari perspektif ini, perjalanan Al Azhar dapat dipahami bukan sebagai “hasil langsung” dari seorang tokoh, melainkan sebagai bagian dari proses kolektif modernisasi pendidikan Islam Indonesia yang di dalamnya
HAMKA memainkan peran penting.Warisan pemikiran HAMKA menjadi semakin relevan ketika pendidikan menghadapi tantangan baru berupa perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Umat Islam tidak cukup hanya menjadi pengguna ilmu dan teknologi. Umat perlu membangun kapasitas untuk menghasilkan pengetahuan, mengembangkan teknologi, dan berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.Namun kemampuan tersebut harus dibangun di atas fondasi akidah dan akhlak.
Dengan demikian, pendidikan Islam yang ideal bukan pendidikan yang mempertentangkan agama dengan ilmu pengetahuan, melainkan pendidikan yang mengintegrasikan iman sebagai orientasi, ilmu sebagai instrumen, akhlak sebagai pedoman, dan kemanfaatan sosial sebagai tujuan.Dalam kerangka itulah gagasan HAMKA mengenai pendidikan tetap memiliki relevansi: membangun manusia Muslim yang tidak kehilangan identitas ketika memasuki modernitas, tetapi justru mampu membawa nilai-nilai Islam ke dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban.
Penulis : Abdul Hadi Hamka M.Ag
Ketua Yayasan Pusat Kajian Buya Hamka









