Tindjauan Di Lembah Nil (1959)

Tindjauan di Lembah Nil (1951)

Buku “Tindjauan di Lembah Nil” karya Hamka, yang diterbitkan pada tahun 1951, merupakan sebuah catatan perjalanan dan refleksi budaya sang penulis saat berkunjung ke Mesir.

Berikut adalah sinopsis dari cuplikan buku tersebut:

  • Awal Perjalanan dan Karantina: Kisah dimulai dengan perjalanan udara Hamka menuju Mesir, di mana ia harus menjalani karantina selama tiga hari di Thur. Di sana, ia berinteraksi dan berdiskusi mendalam tentang sejarah agama, perbedaan mazhab (Sunni dan Syiah), dan pentingnya persatuan umat Islam bersama rekan perjalanannya, Tuan Sulaiman dan Tuan Karam Ali.

  • Tiba di Mesir dan Pengorbanan Sang Sarung: Saat hendak memasuki Kairo, Hamka menceritakan keputusannya untuk menanggalkan sarung yang selama ini menjadi ciri khas dan kebanggaannya. Ia menggantinya dengan setelan jas Eropa, meskipun tetap mempertahankan peci kebangsaan Indonesia. Hal ini ia lakukan demi menjaga citra nama baik dan martabat bangsa Indonesia yang baru merdeka di mata dunia internasional.

  • Refleksi Sejarah dan Pembauran Budaya: Hamka memberikan pandangannya yang mendalam tentang sejarah panjang Mesir, mulai dari kisah Nabi Musa, Firaun, peradaban Yunani, hingga masa pembangunan Terusan Suez dan perjuangan tokoh-tokoh nasionalis Mesir dalam menentang penjajahan Inggris. Saat berada di Kairo, ia menyoroti jalanan kota yang menjadi tempat perpaduan hebat antara kebudayaan Timur dan Barat, di mana pakaian tradisional seperti tarbus dan jubah berbaur dengan mode pakaian Eropa.

  • Pertemuan dengan Tokoh Intelektual Mesir: Bagian penting dari kunjungan Hamka adalah agendanya untuk bertemu dengan para cendekiawan dan sastrawan besar Mesir. Hamka memaparkan diskusinya yang bernas tentang kebudayaan, kemerdekaan, dan kesusastraan dengan tokoh-tokoh terkemuka seperti Dr. Husain Haikal Pasya (penulis Kehidupan Muhammad) dan pudjangga Abbas Mahmud Akkad. Dalam pertemuan tersebut, para tokoh Mesir juga menyatakan kekagumannya terhadap keberhasilan Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang menentang penjajahan. Selain itu, ia juga membahas riwayat pemikir besar Mesir yang buta, Dr. Thaha Husain.

Secara keseluruhan, tulisan ini bukan sekadar catatan perjalanan turis biasa, melainkan sebuah tinjauan filosofis, sejarah, dan sosiologis mengenai kebangkitan dunia Timur, pembaruan pemikiran Islam, serta eratnya ikatan kebudayaan dan perjuangan antara Indonesia dan Mesir.

Bagikan Publikasi: