Buku “Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya” karya Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka) merupakan salah satu karya monumental beliau dalam bidang pemikiran rohani dan akhlak Islam.
Latar Belakang Buku
Buku ini merupakan gabungan dari dua karya utama Buya Hamka yang ditulis pada tahun 1950-an:
-
“Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad” (terbitan pertama tahun 1952).
-
“Mengembalikan Tasauf ke Pangkalnya”, yang diangkat daripada pidato inaugurasi Buya Hamka semasa dilantik sebagai Guru Besar Ilmu Tasawuf di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN / UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) pada tahun 1958.
Sinopsis & Pokok Kandungan Buku
Buku ini menyajikan kajian sejarah, filosofis, dan kritis mengenai perjalanan ilmu tasawuf dalam Islam dari zaman Nabi Muhammad SAW sehingga zaman modern, serta usaha pemurniannya daripada penyelewengan dan amalan yang tidak berasas.
-
Sejarah Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad:
-
Zaman Nabi & Sahabat: Hamka menjelaskan bahawa akar tasawuf berpunca daripada kehidupan rohani Nabi Muhammad SAW, kesederhanaan para Sahabat (Ahlus Suffah), dan para Tabi’in yang mengamalkan sifat zuhud serta kebersihan jiwa berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.
-
Pertumbuhan Tokoh Sufi Awal: Menggalur sejarah kemunculan tokoh-tokoh sufi seperti Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyyah, Al-Junaid al-Baghdadi, hingga Abu Bakr al-Syibli.
-
Evolusi Konsep & Pengaruh Asing: Membahas perkembangan konsep Syari’at, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat, konsep Wali Allah, serta pengaruh falsafah asing (Yunani, Persia, India) yang mula meresap ke dalam pemikiran sufi (seperti fahaman Al-Hallaj mengenai Wahdatul Wujud dan Nur Muhammad).
-
-
Peran Imam Al-Ghazali:
-
Menyoroti peranan penting Imam Al-Ghazali melalui karyanya (Ihya’ Ulumiddin dan Al-Munqidh min ad-Dhalal). Al-Ghazali berhasil menyelaraskan kembali antara ilmu syariat (fiqh) dengan ilmu tasawuf, sehingga tasawuf dapat diterima secara meluas oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
-
-
Pemurnian Tasawuf (Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya):
-
Kritik Terhadap Penyimpangan: Buya Hamka secara tegas mengkritik penyimpangan dalam amalan tasawuf dan tarekat, seperti sikap pasif/pasrah buta menghadapi dunia, mengabaikan hukum syariat demi alasan “hakikat”, kultus individu terhadap syekh, serta amalan mistik yang bertentangan dengan tauhid.
-
Tasawuf Sebagai Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Hamka menegaskan bahawa tasawuf sejati bukanlah melarikan diri daripada kehidupan dunia atau membenci kemajuan, melainkan disiplin untuk membersihkan jiwa, membina akhlak mulia, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
-
Penyatuan Syariat dan Tasawuf: Syariat dan tasawuf adalah dua dimensi yang tidak boleh dipisahkan. Fiqh mengatur amalan lahiriah, sedangkan tasawuf menghidupkan jiwa batiniah. Tanpa syariat, tasawuf akan terjerumus ke dalam kesesatan.
-
Kesimpulan
Buku ini menjadi panduan penting bagi umat Islam untuk memahami tasawuf secara rasional, ilmiah, dan berimbang. Melalui buku ini, Buya Hamka mengajak pembaca untuk mengambil esensi tasawuf yang murni (akhlak, keikhlasan, dan ketenangan batin) sambil membersihkannya daripada amalan takhayul, bid’ah, dan penyelewengan yang merosakkan kesucian ajaran Islam







