Cerita ini mengisahkan penderitaan seorang perantau Minangkabau bernama Musa yang mencari nafkah sebagai tukang kasur keliling di tanah Deli. Walaupun hidup dalam kemiskinan, Musa merasa sangat bahagia dan merdeka karena ia bisa membangun rumah tangga yang rukun bersama istrinya, Ramah, dan anak mereka, Fauzie. Mereka berdua sebelumnya memutuskan pergi merantau karena tidak tahan menderita akibat hinaan, tekanan, dan perbandingan status sosial dengan kerabat lain di kampung halamannya. Di rantau, mereka bebas dari campur tangan keluarga dan saling mendukung dalam suka maupun duka.
Namun, ketenangan mereka hancur ketika desas-desus mengenai kemelaratan mereka terdengar oleh keluarga di kampung. Karena gengsi dan merasa martabat keluarga direndahkan oleh kehidupan keponakannya yang melarat di rantau, mamak (paman) dari pihak istri datang secara khusus ke Deli untuk menjemput paksa Ramah beserta anaknya agar pulang.
Musa menyadari posisi istrinya yang serba salah dan terjepit di antara kesetiaan pada suami serta tuntutan kaum kerabatnya. Tidak ingin memperpanjang konflik, Musa mengalah dan merelakan istrinya pulang. Dengan susah payah, ia bahkan meminjam uang kepada temannya demi membelikan tiket bus untuk kepulangan istri, anak, dan mamaknya. Sesaat sebelum berangkat, Ramah yang berat hati menangis tersedu-sedu dan memohon agar Musa berjanji untuk tidak menceraikannya.
Penderitaan yang sebenarnya terjadi setelah Ramah kembali ke kampung halamannya. Di sana, Ramah dan keluarga Musa justru saling bersitegang akibat campur tangan, fitnah, dan gengsi keluarga besar. Ikuti hingga akhir cerita ini dengan membaca buku nya







