Profil Buya Hamka
Buya Hamka adalah teladan lengkap: ulama yang mencerahkan, negarawan yang berprinsip, serta sastrawan dan jurnalis yang menginspirasi. Warisannya terus hidup dan memberi makna bagi generasi Indonesia hingga dunia.
Perjalanan Hidup Buya Hamka
1908 - 1925
Masa Muda, Pendidikan Awal, & Perantauan Pertama
- 17 Februari 1908: Lahir di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Sumatra Barat dengan nama Abdul Malik. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), tokoh pelopor gerakan pembaruan Islam (Kaum Muda) di Minangkabau.
- 1916 - 1923 (Pendidikan Dasar & Agama): Menempuh pendidikan formal di Sekolah Desa, memperdalam ilmu agama di Sumatera Thawalib Padang Panjang, mengaji di surau tradisional di bawah bimbingan Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Sutan Mansur.
- 1924 (Perantauan Pertama ke Jawa - Usia 16 Tahun): Merantau ke Yogyakarta, Solo, dan Surabaya, belajar langsung kepada para tokoh nasional seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo & R.M. Soerjopranoto, H. Fakhruddin.
- 1925: Kembali ke Padang Panjang dan aktif menggerakkan Persyarikatan Muhammadiyah.
1925 - 1945
Pergerakan, Jurnalistik, & Puncak Karya Sastra
- 1927 (Ibadah Haji & Belajar di Makkah): Menunaikan ibadah haji sekaligus mendalami bahasa Arab, sastra, dan sejarah Islam secara otodidak di perpustakaan Makkah.
- 1929: Menikah dengan Sitti Raham, merintis karier wartawan/penulis di Medan, dan dipercaya menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Padang Panjang.
- 1931 - 1934: Menjadi Konsul Muhammadiyah di Makassar untuk memimpin dan mengembangkan organisasi di Sulawesi Selatan.
-
1936 - 1942 (Era Medan & Majalah Pedoman Masyarakat): Pindah ke Medan dan menjadi Pemimpin Redaksi majalah Pedoman Masyarakat. Di era ini lahir karya karya sastra fenomenalnya:
o 1938: Menerbitkan novel Di Bawah Lindungan Ka'bah.
o 1939: Menerbitkan roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, serta buku Keadilan Ilahi dan Tasawuf Modern. - 1942 - 1945 (Masa Pendudukan Jepang): Memimpin majelis keagamaan, dan diangkat sebagai penasihat/anggota Dewan Pertimbangan Daerah guna melindungi kepentingan masyarakat dan umat Islam dari kebrutalan militer Jepang.
1945 - 1966
Kemerdekaan, Kiprah Politik, & Masa Penahanan Politik
- 1945: Sikap kompromistisnya semasa pendudukan Jepang membuat Hamka sempat dikucilkan dan dipandang sinis oleh masyarakat. Di tahun yang sama ayahnya wafat. Memutuskan kembali ke SumBar.
- 1947 - 1948 (Masa Revolusi Fisik): Menggalang persatuan rakyat menentang Agresi Militer Belanda di SumBar, diangkat sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional SumBar.
- 1950: Hijrah ke Jakarta, diangkat menjadi Pegawai Tinggi Kementerian Agama di bawah Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim.
- 1951 - 1959 (Politik Masyumi & Internasional): Tampil sebagai tokoh Partai Masyumi dan terpilih sebagai anggota Konstituante RI (Pemilu 1955, dapil Jawa Tengah).
- 1958: Menerima gelar Doktor Honoris Causa (D.HC) dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
- 1958 - 1964: Menjadi Imam Besar Masjid Agung Kebayoran Baru (kemudian dinamai Masjid Agung Al Azhar).
- 1962: Mengalami intimidasi dan fitnah tuduhan "plagiator" atas novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dari organisasi sayap PKI (Lekra).
-
1964 - 1966 (Penahanan Politik & Tafsir Al-Azhar):
o Januari 1964: Ditangkap dan dipenjara tanpa peradilan, selama ditahan menulis dan menyelesaikan porsi terbesar dari karya teragungnya, Tafsir Al Azhar.
o Mei 1966: Dibebaskan dari tahanan pasca-peralihan kekuasaan politik.
1966 - 1981
Majelis Ulama Indonesia (MUI) & Warisan Akhir Hayat
- 1966 - 1974: Mempublikasikan Tafsir Al-Azhar. Dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) oleh Universitas Prof. Dr. Moestopo Jakarta (1966) dan menerima gelar Doktor Honoris Causa kedua dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974).
- 26 Juli 1975: Terpilih sebagai Ketua Umum MUI pertama. Beliau memposisikan MUI secara independen sebagai jembatan antara pemerintah dan umat Islam.
- 1981: Mengeluarkan fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama. Karena mendapat tekanan politik kuat dari Pemerintah Orde Baru untuk mencabut fatwa tersebut, Buya Hamka memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI.
- 24 Juli 1981 (Wafat): Wafat pada usia 73 tahun dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
- Pasca-Wafat : Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama (1993) dan ditetapkan secara resmi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2011.
Peran Buya Hamka sebagai Ulama, Negarawan dan Jurnalis/Sastrawan
☪
Buya Hamka
sebagai Ulama
-
Penggerak Peradaban & MUI
Imam Besar pertama Masjid Al Azhar yang menggagas Kuliah Subuh, serta Ketua Umum MUI pertama (1975) yang rela mengundurkan diri pada 1981 demi mempertahankan integritas fatwa.
-
Pemikiran & Tafsir Monumental
Menyusun moderasi Islam (wasathiyah) dan Tasawuf Modern (zuhud aktif), serta menyusun Tafsir Al-Azhar 30 juz di dalam tahanan politik.
-
Pengakuan Dunia
Menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo (1958) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (1974).
⚖
Buya Hamka
sebagai Negarawan
-
Perjuangan & Politisi
Sekretaris Front Pertahanan Nasional Sumbar pada era revolusi, serta menjadi tokoh Partai Masyumi dan anggota Konstituante RI (1955).
-
Keteguhan Prinsip
Menjalani penahanan politik tanpa peradilan selama 2,4 tahun era Demokrasi Terpimpin tanpa pernah mengorbankan prinsip.
-
Toleransi & Pahlawan Nasional
Meneladani jiwa besar dengan mengimami shalat jenazah Soekarno, membimbing mualaf dari keluarga lawan politiknya, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional RI (2011).
✒
Buya Hamka
sebagai Sastrawan
& Jurnalis
-
Pelopor Pers Islam
Pemimpin Redaksi majalah Pedoman Masyarakat (1936–1942) dan pendiri majalah Panji Masyarakat (1959).
-
Karya Sastra Masterpiece
Menulis roman populer seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939), Merantau ke Deli, dan Terusir.
-
Sastra Religius-Kritis
Mempelopori fiksi bernuansa religius-romantis yang memadukan dakwah, nilai kebangsaan, dan kritik terhadap tradisi kaku maupun feodalisme.
Jejak & Warisan
Masjid Agung Al Azhar Jakarta
Masjid yang diimami Buya Hamka dan menjadi pusat dakwah serta Kuliah Subuh.
Karya-karya Monumental
Tafsir Al-Azhar, Tasawuf Modern, dan roman-romannya yang melegenda.
Jiwa Toleransi & Kebangsaan
Mengimami shalat jenazah Soekarno, teladan persatuan dan kebesaran hati.
Penggerak Umat & Bangsa
Ulama, pendidik, politisi, dan pemikir yang berdampak luas bagi Indonesia.
Warisan untuk Generasi
Nilai moral, intelektual, dan kepemimpinan yang terus menginspirasi.